Langkah Pertama Menuju Masa Depan: Kadisdikbud Kalbar Sambut Siswa Baru di SMAN 2 Ketungau Hulu
KATAKALBAR – Di tengah bentangan hutan dan jalan berlumpur pedalaman Kalimantan Barat, semangat pendidikan tak pernah padam. Pada hari pertama tahun ajaran baru, Senin (14/7/2025), Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalbar, Rita Hastarita, menyambut langsung para siswa baru di SMA Negeri 2 Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang—sekolah yang berdiri di salah satu wilayah perbatasan negara.
Perjalanan yang ditempuh rombongan Dinas Pendidikan bukanlah perjalanan biasa. Butuh lebih dari 12 jam melewati jalur tanah merah yang belum beraspal dan kondisi geografis yang menantang. Namun bagi Rita, perjalanan panjang itu tak sebanding dengan kebahagiaan menyaksikan anak-anak perbatasan melangkah ke sekolah dengan semangat dan harapan.
“Hari ini anak-anak di SMAN 2 Ketungau Hulu memulai perjalanan baru dalam hidup mereka. Langkah kaki mereka adalah langkah masa depan. Semangat mereka adalah pengingat bahwa pendidikan harus menjangkau semua, tanpa kecuali,” ujar Rita dengan penuh haru saat menyapa para siswa.
Kehadiran Rita bukan sekadar simbolis. Ia hadir untuk memastikan secara langsung bahwa pelayanan pendidikan di wilayah pedalaman seperti Ketungau Hulu berjalan dengan baik. Sekolah ini sendiri merupakan hasil pembangunan tahun lalu, sebagai bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Kalbar memperluas akses pendidikan di wilayah terluar, tertinggal, dan perbatasan.
“Sekolah ini kami bangun bukan hanya sebagai fasilitas belajar, tetapi sebagai jembatan mimpi bagi anak-anak yang tinggal jauh dari pusat kota. Saya bangga bisa berada di sini hari ini,” tulis Rita melalui akun Instagram pribadinya, @rita_bersamakalian.
Dedikasi Guru, Harapan Bagi Anak Bangsa
Dalam kunjungan tersebut, Rita juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para guru dan tenaga pendidik yang bersedia mengabdikan diri di SMAN 2 Ketungau Hulu. Menurutnya, tantangan geografis dan keterbatasan fasilitas tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap mendidik dengan sepenuh hati.
“Bapak dan Ibu guru di sini adalah pahlawan sejati. Mereka bukan hanya mengajar, tapi juga menginspirasi dan menjaga semangat anak-anak tetap menyala,” ucapnya.
Para guru yang mengajar di sekolah ini tak hanya menjalankan fungsi akademik, tapi juga menjadi pembimbing moral, motivator, bahkan orang tua kedua bagi para siswa yang sebagian besar tinggal jauh dari keluarga.
Pendidikan sebagai Akses Keadilan
Kunjungan ke SMAN 2 Ketungau Hulu ini menjadi simbol bahwa negara hadir hingga ke pelosok perbatasan. Bagi Rita, pendidikan bukan hanya soal pembangunan gedung atau pengadaan buku. Pendidikan adalah hak dan alat keadilan sosial.
“Tidak boleh ada anak Indonesia yang tertinggal hanya karena tempat tinggalnya jauh dari kota. Pemerintah hadir untuk menjamin bahwa hak belajar mereka terpenuhi,” tegas Rita.
Dengan dibukanya SMAN 2 Ketungau Hulu, ratusan anak di perbatasan kini tidak lagi harus menempuh perjalanan berjam-jam untuk mengakses jenjang pendidikan menengah atas. Mereka bisa bersekolah lebih dekat dengan rumah, lebih nyaman, dan lebih layak.
Langkah Kecil, Dampak Besar
Meski perjalanan ke sekolah ini penuh tantangan, Rita percaya bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan pemerintah hari ini akan berdampak besar bagi masa depan Kalimantan Barat. Pendidikan adalah investasi jangka panjang, dan sekolah-sekolah seperti SMAN 2 Ketungau Hulu adalah pondasinya.
“Saya percaya, di antara anak-anak di sini, ada calon guru, pemimpin, dokter, atau insinyur masa depan. Tugas kita adalah memastikan jalan mereka terbuka,” pungkasnya.
