Oktober 30, 2026

Ribuan Lampion Panca Bhakti Meriahkan Pembukaan Festival di Pontianak

0
fc1e8757-3d21-4f26-979e-c65709ed2932

Sejumlah pengurus Yayasan Panca Bhakti menabuh tambur sebagai tanda dibukanya festival lampion dalam rangka memeriahkan Imlek 2577 di Pontianak. Foto : Kata Kalbar

KATAKALBAR- Ribuan lampion merah menggantung dan berpendar di halaman Yayasan Panca Bhakti, Pontianak, menandai dibukanya Festival Lampion dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2577. Cahaya temaram yang memantul di wajah-wajah pengunjung menghadirkan suasana hangat, penuh harap, sekaligus khidmat.

Malam pembukaan tak sekadar seremoni. Dentuman tambur yang menggema menjadi penanda simbolik bahwa Tahun Kuda Api segera tiba. Irama yang bertalu-talu itu seakan mengajak seluruh masyarakat untuk bersiap memasuki lembaran baru, meninggalkan tahun yang telah berlalu dengan penuh refleksi dan menyongsong tahun mendatang dengan semangat baru.

Wakil Ketua Umum Damkar Panca Bhakti, Jupri Syukur, menjelaskan bahwa Imlek dimaknai sebagai awal musim semi sebuah simbol kebangkitan dan pembaruan. Menurutnya, penyalaan lampion bukan hanya untuk memeriahkan perayaan, tetapi juga sebagai doa dan harapan bersama.

“Dengan dihidupkannya lampion ini, kita ikut memeriahkan Tahun Baru Imlek. Kita selalu mengharapkan untuk tahun ke depannya bisa memberikan kita kesehatan, keberuntungan, dan kesejahteraan untuk seluruh masyarakat di Pontianak pada umumnya, dan kepada Panca Bhakti pada khususnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, perayaan ini juga menjadi momentum refleksi bagi Damkar Panca Bhakti yang selama ini dikenal aktif berperan dalam pelayanan sosial dan penanggulangan kebakaran di Kota Pontianak. Ke depan, pihaknya berkomitmen melengkapi berbagai kekurangan, mulai dari infrastruktur, fasilitas, hingga peningkatan latihan bagi seluruh personel.

Jupri juga menyoroti keterlibatan generasi muda yang kini semakin aktif. Ia berharap semangat pengabdian dapat terus dilanjutkan oleh anak-anak muda agar organisasi tetap tumbuh dan relevan di masa mendatang.

Dalam konteks kehidupan masyarakat Kalimantan Barat yang majemuk, perayaan Imlek tahun ini juga berdekatan dengan bulan suci Ramadan. Jupri menegaskan bahwa semangat toleransi menjadi prinsip utama dalam penyelenggaraan kegiatan. Penyesuaian jadwal pagelaran, termasuk atraksi liung, dilakukan agar tidak bertabrakan dengan waktu ibadah puasa.

“Kita di Kalimantan Barat ini sudah terkenal dengan toleransinya. Pasti kita sesuaikan. Jangan sampai bertabrakan. Kita saling menghormati,” katanya.

Untuk perayaan tahun ini, atraksi tatung dipastikan tidak ditampilkan oleh Panca Bhakti. Meski demikian, kemeriahan festival lampion tetap menjadi simbol kebersamaan lintas suku dan agama sebuah perayaan yang bukan hanya milik satu komunitas, tetapi dirasakan hangat oleh seluruh warga kota.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *