Februari 20, 2026

Sistem Mutu Berlapis dari 1.515 Paket MBG SPPG Sungai Jawi 5

0
WhatsApp Image 2026-02-19 at 16.35.11

KATAKALBAR – Aktivitas di dapur SPPG Sungai Jawi 5 sudah dimulai sejak malam hari. Ketika sebagian besar warga terlelap, tim dapur justru bersiap memproduksi 1.515 paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang setiap hari dikirim ke sekolah dan posyandu di Pontianak.

Kepala SPPG Sungai Jawi 5, Faical, menegaskan bahwa kualitas menjadi prioritas utama. Standar yang diterapkan bukan hanya soal rasa, tetapi juga kebersihan, keamanan pangan, dan ketepatan distribusi.

“Jam 7 malam kami sudah mulai. Ayam di-thawing dulu, sambil itu tim siapkan sayur. Sayur itu paling lama pengerjaannya,” jelas Faical.

Seluruh bahan baku yang datang diperiksa secara menyeluruh. Kondisi fisik, warna, hingga aroma menjadi indikator awal kelayakan. Jika tidak memenuhi standar, bahan langsung ditolak.

“Kalau bahan jelek, kami tidak pakai. Jangan sampai dipaksakan distribusi,” tegasnya.

Proses memasak nasi dimulai sekitar pukul 01.00 WIB. Setiap hari, sekitar 120 kilogram beras diolah menggunakan 24 loyang besar. Area dapur dibersihkan secara berkala dan setiap tim memiliki pembagian tugas jelas, mulai dari pencucian, pemotongan, memasak, hingga pengemasan, guna mencegah kontaminasi silang.

Tahap pengemasan dilakukan dengan perhitungan teliti. Jumlah ompreng disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sekolah agar tidak terjadi kekeliruan distribusi.

“Biasanya benar-benar mulai packing itu jam 5 pagi supaya tidak terjadi kesalahan distribusi,” katanya.

Sebelum didistribusikan, makanan melalui uji organoleptik untuk memastikan rasa, tekstur, dan aroma sesuai standar. Ahli gizi turut memeriksa kandungan serta kesesuaian porsi. Setelah tiba di sekolah, sampel kembali dicek oleh guru sebelum dibagikan kepada siswa.

Distribusi dilakukan maksimal satu jam sebelum waktu makan, sehingga makanan tetap dalam batas aman konsumsi hingga enam jam sejak selesai produksi.

Menu MBG disusun mingguan bersama ahli gizi dan mitra penyedia bahan. Prinsip gizi seimbang menjadi acuan utama, disesuaikan dengan ketersediaan bahan dan daya tahan makanan. Ayam menjadi sumber protein yang paling sering dipilih karena disukai anak-anak, sementara makanan bersantan dihindari untuk menjaga kualitas.

“Susu ada, tapi sekarang sedang mahal dan sulit didapat. Jadi kami sesuaikan tetap dengan standar gizi seimbang,” ujarnya.

Selain sekolah, program ini juga menjangkau 321 penerima manfaat di posyandu yang terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Pengiriman dilakukan setiap Senin dan Kamis dengan pendataan dan koordinasi bersama kader.

Bagi SPPG Sungai Jawi 5, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah paket yang tersalurkan, tetapi dari jaminan mutu yang terjaga di setiap ompreng yang diterima siswa dan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *