Relawan Gen Z Pontianak Isi Ramadan dengan Belajar Braille Bersama Tunanetra
KATAKALBAR — Suasana hangat penuh kebersamaan terasa di salah satu kegiatan Ramadan yang digelar Relawan Gen Z Pontianak.
Puluhan relawan muda berkumpul bersama teman-teman tunanetra dari LPAI Sahabat Netra Ar-Rahmah dalam sebuah kegiatan kreatif yang memadukan aktivitas edukatif dan kebersamaan menjelang berbuka puasa.
Kegiatan tersebut diisi dengan pembuatan papan nama kamar menggunakan huruf alfabet dan huruf braille. Aktivitas sederhana ini ternyata mampu menghadirkan semangat dan antusiasme besar, baik dari para relawan maupun teman-teman tunanetra yang turut terlibat.
Sejak sore hari, para peserta terlihat sibuk menghias papan nama kamar. Mereka menempel huruf, merangkai dekorasi, hingga mempelajari bagaimana huruf braille dituliskan. Aktivitas ini sekaligus menjadi sarana belajar yang menyenangkan bagi para relawan yang sebagian besar baru pertama kali mengenal huruf braille secara langsung.
Ketua Relawan Muda Pontianak, Amalia, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dirancang sebagai aktivitas ngabuburit yang bermanfaat sekaligus menjadi ruang interaksi antara relawan dan teman-teman tunanetra.
“Kita hari ini membuat papan nama untuk kamar, nantinya ditempel didepan kamar, dengan huruf alfabet, ada juga huruf braille nah nanti dihias-hias gitu,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan sederhana seperti ini bisa menjadi cara yang efektif untuk memperkenalkan huruf braille kepada para relawan, sekaligus membantu kebutuhan teman-teman tunanetra.
Ia berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi aktivitas sesaat, tetapi juga membuka wawasan para relawan tentang pentingnya memahami dunia teman-teman disabilitas.
“Nah kegiatan ini sekaligus juga diharapkan dapat menjadi media belajar teman-teman volunteer untuk belajar bahasa braille, jadi sekalian kita bantu adik-adik bikin papan nama, sekalian juga kita belajar,” tambahnya.
Kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman baru bagi para relawan yang selama ini ingin terlibat langsung dalam kegiatan sosial. Salah satunya Cinta, relawan yang mengaku sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut.
Ia mengungkapkan keinginannya untuk bisa berinteraksi langsung dengan anak-anak tunanetra sekaligus mempelajari huruf braille dari mereka.
“Saya itu memang tertarik dengan kegiatan-kegiatan volunteer, selain itu saya juga pengen banget berinteraksi langsung sama anak-anak tunanetra, nah kebetulan dari komunitas warm mengadakan ini jadi saya langsung ikut, biar bisa belajar langsung dari mereka,” katanya.
Menjelang waktu berbuka, kegiatan ditutup dengan kebersamaan menikmati hidangan buka puasa. Momen tersebut menjadi simbol kebersamaan dan kepedulian sosial yang terjalin antara relawan muda dan teman-teman tunanetra.
Bagi para relawan, kegiatan ini bukan sekadar mengisi waktu Ramadan, tetapi juga menjadi pengalaman berharga yang membuka pemahaman tentang empati, kepedulian, dan pentingnya saling belajar satu sama lain.
