April 2, 2026

Puluhan Kelompok Siap Nyalakan Meriam Karbit, Tradisi Sambut Idul Fitri Kembali Semarak

0
WhatsApp Image 2026-03-13 at 17.10.44

KATAKALBAR — Persiapan penyelenggaraan tradisi Meriam Karbit di Kota Pontianak terus dimatangkan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Tahun ini, sebanyak 229 meriam karbit akan dinyalakan oleh 37 kelompok yang tersebar di sejumlah titik di sepanjang tepian Sungai Kapuas.

Permainan rakyat yang telah berlangsung selama puluhan tahun ini menjadi salah satu tradisi yang paling dinantikan masyarakat Pontianak setiap akhir Ramadan. Dentuman meriam karbit yang menggema dari bantaran sungai menjadi penanda datangnya malam kemenangan bagi umat Muslim.
Ketua Forum Komunikasi Seni dan Budaya Tradisi Meriam Karbit Kota Pontianak, Fajriudin Anshari, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Pontianak yang terus memberikan dukungan terhadap pelestarian tradisi tersebut.
Terima kasih kepada Pemerintah Kota Pontianak yang terus memberikan dukungan sehingga tradisi Meriam Karbit dapat kembali dilaksanakan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dari total 37 titik yang akan berpartisipasi, sebanyak 20 kelompok berada di wilayah Pontianak Timur. Sementara 17 kelompok lainnya tersebar di Pontianak Selatan dan Pontianak Tenggara.
“Seluruh kelompok akan menyalakan meriam karbit sebagai bagian dari tradisi menyambut Idulfitri sekaligus penanda berakhirnya bulan suci Ramadan,” jelasnya.
Menurut Fajriudin, berbagai persiapan terus dilakukan oleh panitia maupun kelompok meriam. Salah satu titik utama kegiatan berada di Gang Darsyad, Jalan Imam Bonjol, yang direncanakan menjadi lokasi seremoni pembukaan tradisi Meriam Karbit tahun ini.
Hingga saat ini, persiapan di lokasi tersebut telah mencapai sekitar 80 persen. Di area tersebut sedang disiapkan panggung utama, panggung seni, serta panggar atau tempat meriam karbit.
Seremoni pembukaan rencananya akan dihadiri oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) tingkat provinsi dan kota, termasuk Gubernur Kalimantan Barat dan Wali Kota Pontianak.
Sementara itu, persiapan di tingkat kelompok juga berjalan cukup cepat. Sekitar 75 persen kelompok telah menempatkan meriam di panggar masing-masing. Biasanya pada H-3 menjelang Lebaran akan dilakukan uji bunyi untuk memastikan kondisi meriam dalam keadaan baik sebelum digunakan.
Dari total meriam yang akan dinyalakan, sebanyak 108 unit merupakan meriam balok yang dibuat dari kayu gelondongan. Sedangkan sekitar 129 unit lainnya merupakan meriam non-balok yang menggunakan bahan paralon maupun besi.
Fajriudin menjelaskan bahwa meriam balok membutuhkan proses pembuatan yang lebih panjang dibandingkan meriam non-balok. Hal ini karena bahan utama yang digunakan adalah kayu gelondongan dengan ukuran besar.
“Pembuatan satu unit meriam balok bahkan bisa memakan waktu hingga satu minggu,” ungkapnya.
Meski demikian, keberadaan kedua jenis meriam tersebut tetap menjadi bagian dari tradisi yang terus dipertahankan oleh masyarakat Pontianak.
Ke depan, Forum Komunikasi Seni dan Budaya Tradisi Meriam Karbit juga berharap Festival Meriam Karbit yang terakhir digelar pada 2023 dapat kembali dilaksanakan pada 2027.
“Dengan adanya festival, setiap kelompok biasanya juga menampilkan pakaian adat dan ornamen budaya yang semakin memperkaya nilai tradisi ini,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *