Imlek dan Cap Go Meh di Kalbar jadi Simbol Toleransi Antar-Etnis
KATAKALBAR – Perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh di Kalimantan Barat kembali menjadi sorotan dunia. Momentum budaya tersebut dinilai bukan sekadar ritual keagamaan warga Tionghoa, tetapi juga menjadi simbol kuat toleransi antar-etnis di Bumi Khatulistiwa, 21 Maret 2026.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Barat, Sy. Faisal Indahmawan Alkadri, mengatakan keunikan Imlek di Kalbar terletak pada kuatnya akulturasi budaya antara etnis Tionghoa, Dayak, dan Melayu.
“Imlek di Kalbar ini bukan hanya milik satu etnis. Kita bisa melihat bagaimana harmoni terjalin, di mana warga Dayak dan Melayu kerap terlibat aktif, baik sebagai penonton maupun pengisi acara dalam pawai-pawai besar,” ujar Faisal saat memberikan keterangan di Pontianak.
Menurut Faisal, Kota Singkawang dan Pontianak masih menjadi pusat kemeriahan perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Kalbar. Khusus Singkawang, perayaan Cap Go Meh bahkan dikenal sebagai salah satu yang termegah di Asia Tenggara.
Suasana kota yang dipenuhi lampion merah dan aroma khas hio menciptakan atmosfer budaya yang unik dan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat maupun wisatawan.
“Ini adalah kekayaan budaya kita. Pemasangan lampion itu bukan sekadar hiasan, tapi simbol keberuntungan dan penerangan masa depan bagi kita semua,” tambahnya.
Faisal berharap semangat toleransi dan kebersamaan dalam perayaan Imlek di Kalbar dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.
“Partisipasi pemuda Dayak atau Melayu yang menjadi pemain Barongsai atau pengawal naga adalah potret nyata toleransi yang harus terus kita jaga. Inilah wajah asli Kalimantan Barat,” pungkas Faisal.
