Hotspot Karhutla Kalbar Turun Jadi 28 Titik, Penanganan Diperkuat
KATAKALBAR – Jumlah titik api kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan Barat menunjukkan penurunan signifikan.
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengatakan, sebelumnya jumlah titik api di Kalbar sempat mencapai lebih dari 2.000 titik.
Namun, berdasarkan data Kementerian Kehutanan, kini jumlah tersebut telah turun menjadi 28 titik.
Penurunan ini terjadi setelah penanganan karhutla melibatkan ribuan personel. Ria Norsan menyebut sedikitnya 4.138 orang telah terlibat dalam penanganan, dengan tambahan personel dari TNI, Polri, serta Kementerian Kehutanan.
Menurutnya, tambahan kekuatan tersebut diharapkan dapat mempercepat proses pemadaman, terutama di wilayah gambut yang sulit dijangkau.
Salah satu kendala utama di lapangan adalah kebakaran yang terjadi di tengah kawasan hutan dan lahan gambut dengan keterbatasan sumber air.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah memperkuat operasi pemadaman dari udara.
Dukungan water bombing yang sebelumnya berjumlah enam unit kini ditambah menjadi sekitar 10 unit.
Selain itu, operasi modifikasi cuaca atau OMC juga diperkuat. Pesawat untuk operasi tersebut ditambah guna membantu menciptakan hujan di wilayah yang membutuhkan.
Di samping itu Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni mengatakan bahwa,kondisi tersebut belum sepenuhnya menandakan karhutla telah tertangani. Pemerintah masih mewaspadai keberadaan asap yang berasal dari lahan gambut, meskipun api di permukaan sudah tidak terlihat.
“Angka hotspot ini tidak selalu beriringan dengan kabut asap. Saya tadi turun di salah satu titik di Kubu Raya, di Rasau Jaya Tiga ya, api sudah tidak ada, tapi asap dari gambut ya, tanah gambut itu masih sangat terlihat ya. Oleh karena itu, perlu pendinginan, pemadaman lebih lanjut,” jelas dia.
Menurutnya, kondisi gambut menjadi salah satu tantangan dalam penanganan karhutla. Api dapat bertahan di bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman membutuhkan penanganan lebih lanjut untuk memastikan bara benar-benar padam.
“Oleh karena itu memang tidak gampang untuk memadamkan api di gambut ini,” ujarnya.
Ia menegaskan, penurunan jumlah hotspot tetap perlu disikapi dengan kewaspadaan. Proses pendinginan dan pemadaman lanjutan masih diperlukan di sejumlah lokasi untuk mencegah api kembali muncul.
