Oktober 30, 2026

50 Siswa 3T Tinggalkan Kampung Halaman, Orang Tua Lepas Anak Sekolah ke Pontianak

0
WhatsApp Image 2026-08-27 at 17.49.06

KATAKALBAR — Suasana haru mewarnai pelepasan 50 pelajar asal wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang akan melanjutkan pendidikan di Kota Pontianak melalui Beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) Tahun Ajaran 2026/2027.

Sejumlah orang tua hadir mengantar anak-anak mereka dalam prosesi serah terima dan pembekalan penerima ADEM di Hotel Gajahmada Pontianak, Jumat (17/7/2026).

Bagi sebagian keluarga, keberangkatan tersebut menjadi pengalaman pertama anak harus tinggal jauh dari orang tua demi menempuh pendidikan.

Salah seorang orang tua siswa asal Kecamatan Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang, mengaku bersyukur putrinya berhasil lolos seleksi ADEM.

“Awalnya kami hanya berharap dia bisa sekolah dekat rumah. Ternyata lulus seleksi dan mendapat beasiswa. Ini benar-benar anugerah,” katanya.

Putrinya kini akan melanjutkan pendidikan di salah satu SMK Negeri di Kota Pontianak. Kesempatan tersebut sekaligus menjadi harapan keluarga agar sang anak dapat memperoleh pendidikan dan pengalaman yang lebih luas.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Barat, Syarif Faisal Indahmawan Alkadri, meminta para siswa memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sungguh-sungguh.

“Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kalian akan belajar di sekolah-sekolah terbaik sehingga harus mampu menyesuaikan diri, menjaga sikap, disiplin, dan menunjukkan prestasi. Buktikan bahwa siswa dari daerah 3T memiliki kemampuan yang sama dan mampu bersaing,” kata Faisal.

Sebanyak 50 penerima ADEM berasal dari sejumlah wilayah 3T, di antaranya Kabupaten Sintang, Kapuas Hulu, Bengkayang, Sanggau, Sambas, serta kawasan perbatasan Ketungau dan Badau.

Mereka akan bersekolah di SMA Negeri 1 Pontianak, SMA Negeri 3 Pontianak, SMA Negeri 7 Pontianak, SMA Negeri 8 Pontianak, SMK Negeri 1 Pontianak, SMK Negeri 5 Pontianak, dan SMK Negeri 9 Pontianak.

Faisal menjelaskan, para penerima ADEM merupakan siswa berprestasi yang lolos seleksi secara berjenjang berdasarkan rekomendasi pemerintah daerah. Program tersebut tidak hanya ditujukan berdasarkan kondisi ekonomi.

Selama berada di Pontianak, para siswa juga akan mendapat dukungan tempat tinggal melalui orang tua asuh yang sebagian besar merupakan guru di sekolah masing-masing.

“Pemerintah pusat menanggung biaya pendidikan dan biaya hidup mereka. Untuk tempat tinggal, mereka akan didampingi orang tua asuh dari guru-guru di sekolah penerima,” jelasnya.

Namun, dukungan tersebut tetap harus diimbangi kemampuan siswa beradaptasi dengan kehidupan baru.

Kepala SMK Negeri 1 Pontianak, Anis Sarifudin Adi, yang sekolahnya telah menerima siswa ADEM selama tiga tahun, mengatakan proses adaptasi menjadi tantangan tersendiri bagi siswa.

“Yang paling penting di awal adalah bagaimana mereka bisa menyesuaikan diri. Selain belajar mandiri, mereka juga harus menghadapi rasa rindu kepada keluarga,” ujarnya.

Meski harus meninggalkan keluarga, Anis menilai siswa ADEM memiliki kemampuan yang baik untuk mengikuti pendidikan.

“Selama tiga tahun menerima siswa ADEM, kami melihat kemampuan mereka sangat baik. Bahkan tidak pernah ada yang tidak naik kelas,” katanya.

Kini, 50 siswa tersebut memulai babak baru pendidikan mereka di Pontianak. Di sisi lain, para orang tua harus merelakan anak-anak mereka tinggal jauh dari rumah demi mengejar pendidikan dan prestasi.

Program ADEM diharapkan menjadi jembatan bagi para siswa 3T untuk memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih luas tanpa harus terbebani persoalan biaya selama menjalani pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *