Oktober 30, 2026

Lebih dari Separuh Karhutla Kalbar Tertangani, Hujan Diprediksi Turun Awal Bulan Ini

0
f53500e8-e1ac-40c9-abec-8e2651d4eb82

KATAKALBAR — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat terus dikebut pemerintah bersama unsur gabungan. Dari sekitar 38.000 hektare area yang terdampak kebakaran hingga awal September 2026, lebih dari separuhnya telah mendapatkan penanganan di lapangan.

Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kalbar Ridwan mengatakan penanganan dilakukan terhadap area yang telah teridentifikasi terbakar, baik di kawasan hutan, areal penggunaan lain (APL), lahan pertanian maupun hutan produksi.

“Kalau dari 38.000 hektare itu sudah lebih dari separuh yang ditangani. Jika suatu lokasi sudah bisa didata sebagai area terbakar, berarti telah ada penanganan yang dilakukan di lapangan,” jelas Ridwan.

Upaya tersebut dilakukan di tengah kondisi karhutla yang masih dinamis. Pemerintah Provinsi Kalbar terus memperkuat operasi pemadaman untuk mencegah api meluas dan menekan munculnya titik panas baru.

Gubernur Kalbar Ria Norsan mengatakan perkembangan titik panas saat ini menunjukkan penurunan signifikan. Kondisi tersebut berbeda dengan periode sebelumnya ketika jumlah titik panas sempat menembus lebih dari 2.000 titik.

“Titik api semakin menurun. Dari yang sebelumnya lebih dari 2.000 titik, sekarang sekitar 157 titik,” kata Norsan saat meninjau lokasi kebakaran lahan di Sekunder C, Kubu Raya, Rabu (2/9/2026).

Namun, Norsan mengingatkan kondisi tersebut belum dapat menjadi alasan untuk menurunkan kewaspadaan. Perubahan cuaca dan aktivitas pembakaran lahan dapat membuat jumlah titik api kembali melonjak dalam waktu singkat.

“Dalam waktu dua jam saja titik api bisa naik sampai 1.000 titik. Selain faktor angin, banyaknya masyarakat yang masih membakar lahan juga menjadi penyebab munculnya titik api baru,” ujarnya.

Selain operasi pemadaman di darat, pemerintah juga mengoptimalkan penanganan melalui udara menggunakan water bombing. Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) turut disiapkan untuk membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah yang membutuhkan.

Meski demikian, pelaksanaan TMC tidak dapat dilakukan setiap saat karena bergantung pada keberadaan awan potensial untuk penyemaian.

“OMC atau TMC tergantung pada bibit awan. Kalau tidak ada awan, tidak bisa dilakukan penyemaian. Berdasarkan perkiraan BMKG, mudah-mudahan pada 3 hingga 9 September ada peluang hujan,” kata Norsan.

Kabupaten Ketapang menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus pemerintah. Kondisi asap yang sangat pekat bahkan sempat menjadi kendala bagi pelaksanaan pemadaman melalui water bombing.

“Yang paling parah sekarang titik api di Ketapang. Kemarin water bombing tidak bisa dilakukan karena asap sangat pekat. Mudah-mudahan hari ini sudah bisa dilakukan,” ujarnya.

Norsan menegaskan penanganan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni hingga masyarakat terus dilibatkan dalam upaya pemadaman dan pencegahan.

Di sisi lain, masyarakat kembali diminta menghentikan aktivitas pembakaran lahan selama musim kemarau. Langkah pencegahan dinilai penting agar penanganan terhadap puluhan ribu hektare lahan terdampak karhutla tidak kembali diperberat dengan munculnya titik api baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *