Oktober 30, 2026

Tiga OU Diselamatkan dari Dampak Karhutla di Kayong Utara

0
Screenshot

KATAKALBAR – Tiga individu orangutan diselamatkan dari wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Salah satunya, orangutan betina yang diberi nama Mama Penja, ditemukan dalam kondisi kurus, dehidrasi, dan mengalami luka bakar pada kedua kaki.

Penyelamatan dilakukan tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Yayasan Palung, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Penjalaan, LPHD Padu Banjar, serta masyarakat setempat pada Sabtu (12/9/2026).

Dalam dua operasi penyelamatan, tim mengevakuasi sepasang induk dan anak orangutan di Desa Penjalaan serta satu orangutan jantan dewasa di Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir.

Dua orangutan di Desa Penjalaan kemudian diberi nama Mama Penja dan Penja. Keduanya ditemukan di kebun sawit milik warga. Lokasi tersebut berada di sekitar Hutan Desa Penjalaan yang terdampak kebakaran.

Dokter hewan satwa liar sekaligus Direktur Utama YIARI, Dr. Karmele Llano Sanchez, mengatakan kondisi Mama Penja dan anaknya sangat memprihatinkan saat ditemukan.

“Saat kami tiba di lokasi, kami melihat induk orangutan dan anaknya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Keduanya terlihat sangat kurus dan lemas, dan hampir tidak bergerak dari sarangnya, meskipun banyak orang berada di sekitar mereka,” ujar Karmele.

Setelah berhasil dibius menggunakan blow dart, tim medis memberikan pertolongan pertama berupa cairan infus dan oksigen. Keduanya kemudian dievakuasi ke Pusat Rehabilitasi YIARI untuk pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.

Hasil pemeriksaan menunjukkan Mama Penja mengalami dehidrasi dan anemia berat. Tim juga menemukan luka bakar pada kedua kakinya hingga menyebabkan kulit terkelupas.

Karmele menduga luka tersebut terjadi karena Mama Penja berjalan di atas tanah gambut yang terbakar. Kondisi giginya juga mengalami banyak pengikisan yang diduga berkaitan dengan keterbatasan pakan akibat kebakaran.

“Saat kami melakukan pemeriksaan, induk orangutan terlihat sangat dehidrasi dan pucat. Kami juga menemukan luka bakar pada kedua kakinya, hingga menyebabkan kulit terkelupas,” jelasnya.

Tim medis kini memprioritaskan pemulihan kondisi Mama Penja melalui stabilisasi, pemberian nutrisi, dan perawatan intensif. Anak orangutan tersebut juga mendapat perawatan untuk memastikan kondisinya tetap terpantau.

Selain Mama Penja dan Penja, tim menyelamatkan seekor orangutan jantan dewasa di Desa Padu Banjar. Orangutan tersebut kemudian diketahui bernama Kumbang.

Identifikasi dilakukan setelah tim menemukan microchip pada tubuh Kumbang. Hasil identifikasi menunjukkan orangutan tersebut pernah dievakuasi dari kawasan hutan yang sama pada 2022.

Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, mengatakan kebakaran yang meluas diduga mendorong Kumbang keluar dari habitatnya dan masuk ke wilayah permukiman serta kebun masyarakat.

“Tim menemukan microchip yang menunjukan bahwa orangutan ini sudah pernah dievakuasi sebelumnya dari hutan yang sama pada tahun 2022. Kemungkinan orangutan ini yang telah dievakuasi dan dilepaskan kembali pada tahun 2022 menunjukan bahwa selama ini kondisi habitat cukup aman untuk orangutan tersebut, namun karena kebakaran yang meluas, mendorong orangutan ini masuk di wilayah kampung dan di kebun masyarakat,” jelas Argitoe.

Saat diperiksa, Kumbang ditemukan mengalami sejumlah kondisi kesehatan yang perlu mendapat perhatian. Dokter hewan menemukan suara abnormal pada paru-paru kanannya. Sebelumnya, warga juga melaporkan Kumbang sempat terdengar batuk.

Tim menduga gangguan pernapasan tersebut berkaitan dengan paparan asap karhutla. Saat dievakuasi, lokasi kebun tempat Kumbang ditemukan dipenuhi kabut asap cukup tebal.

Selain itu, ditemukan sejumlah luka dan bekas cedera pada tubuh Kumbang, termasuk luka panjang di punggung kanan, bekas luka pada kaki, serta benda asing yang diduga merupakan peluru pada tangan kanannya. Tim juga menemukan bekas jerat.

Argitoe mengatakan kondisi ketiga orangutan tersebut menunjukkan dampak kebakaran terhadap satwa liar mulai terlihat secara langsung.

“Evakuasi ini menjadi semakin mendesak karena dampak karhutla terhadap satwa liar sudah mulai terlihat secara langsung. Pada Mama Penja, tim menemukan luka bakar yang cukup banyak pada bagian kaki, disertai kondisi tubuh yang kurus dan tanda-tanda dehidrasi. Sementara pada Kumbang, tim menemukan kondisi kesehatan yang juga perlu mendapat perhatian, termasuk adanya suara abnormal pada paru-paru dan riwayat batuk yang mengarah pada dugaan gangguan pernapasan.”

Ketiga orangutan kini menjalani pemantauan dan perawatan di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI. Pemeriksaan lanjutan dilakukan untuk menentukan penanganan bagi masing-masing individu.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengatakan penyelamatan dilakukan berdasarkan laporan masyarakat. Ia berharap ketiga orangutan dapat pulih dan nantinya kembali ke habitat alami yang aman.

“Penyelamatan ketiga orangutan ini kami laksanakan berdasarkan informasi dari masyarakat sekitar dua hari sebelumnya. Saat ini mereka menjalani perawatan di pusat penyelamatan orangutan YIARI di Ketapang. Kami berharap mereka semua dapat segera pulih dan beradaptasi dengan baik setelah mendapatkan perawatan, sehingga nantinya dapat dilepasliarkan ke habitat alaminya yang aman. Secara keseluruhan, hingga saat ini sudah ada 18 individu orangutan yang kami selamatkan akibat karhutla,” ujarnya.

Murlan juga mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila menemukan satwa yang terdampak kebakaran hutan dan lahan.

“Upaya penyelamatan satwa terdampak kebakaran hutan memerlukan informasi yg cepat dan akurat, oleh karena itu kami himbau masyarakat dapat melaporkan kepada call center Balai KSDA Kalimantan Barat 0811-5670-041 atau 0811-5776-767 jika menemukan satwa terdampak kebakaran hutan dan lahan,” tambahnya.

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menilai respons cepat diperlukan ketika habitat orangutan terdampak kebakaran. Kondisi tersebut dapat mendorong orangutan keluar dari kawasan hutan dan masuk ke wilayah yang memiliki risiko bagi keselamatan serta kesehatannya.

Ketiga orangutan tersebut masih menjalani perawatan dan pemantauan hingga kondisi mereka dinilai memungkinkan untuk kembali ke habitat alami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *