Kalbar Fokus Kendalikan Inflasi dan Perkuat Ketahanan Pangan
KATAKALBAR – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menegaskan keseriusannya dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus menekan laju inflasi. Komitmen ini ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Selasa, 2 September 2025, dan dipimpin langsung oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.
Gubernur Kalbar Ria Norsan menghadiri rapat tersebut bersama Sekretaris Daerah serta Asisten II Bidang Perekonomian. Dalam pertemuan itu, situasi nasional turut menjadi sorotan, terutama terkait gelombang unjuk rasa yang terjadi sejak 25 Agustus lalu.
“Ada 107 titik aksi di 30 provinsi. Sejumlah fasilitas publik rusak, kantor dibakar,” ujar Tito dalam arahannya.
Ia mendorong pemerintah daerah bertindak cepat menghadapi dinamika sosial dan ekonomi. Tito mencontohkan langkah sigap Presiden Prabowo yang langsung menggelar rapat kabinet serta menemui berbagai elemen masyarakat.
“Inflasi harus dikendalikan bersama. Pemda berperan menjaga ketersediaan bahan pokok dan kelancaran distribusi,” katanya menambahkan.
Kalbar Jalankan Program Pangan Murah
Sejalan dengan arahan pemerintah pusat, Kalimantan Barat telah menjalankan sejumlah langkah nyata. Salah satunya adalah Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar bersama Perum Bulog. Program ini bertujuan menyediakan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
“Langkah konkret seperti GPM terbukti meringankan beban masyarakat. Kalbar siap berkontribusi menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung swasembada pangan nasional,” kata Norsan.
Ia menegaskan pentingnya sinergi antara berbagai sektor dalam menekan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat.
“Kami berharap langkah-langkah proaktif ini tidak hanya menstabilkan harga, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi daerah,” ujarnya.
Stok Pangan Nasional Surplus
Dalam rapat yang sama, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyampaikan bahwa Indonesia tidak akan melakukan impor beras tahun ini karena produksi nasional melampaui kebutuhan dalam negeri.
“Tahun ini kita surplus 3 juta ton. Tidak ada impor seperti tahun lalu. Bulog akan terus menjaga stok dan stabilitas harga,” ujar Zulhas.
Ia juga menekankan pentingnya mempercepat pengembangan kawasan swasembada pangan serta mendorong penguatan koperasi desa agar ketahanan pangan makin solid dari tingkat bawah.
