Oktober 30, 2026

Art Borneo 2026 Pertemukan 32 Seniman dari Tiga Negara

0
Screenshot

KATAKALBAR — Art Borneo 2026 kembali digelar di Kalimantan Barat dengan mempertemukan puluhan seniman dari kawasan Borneo dan sejumlah daerah di Indonesia.

Memasuki tahun kedua penyelenggaraannya, Art Borneo 2026 melibatkan 32 seniman dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Kehadiran para seniman dari tiga negara tersebut menjadikan Art Borneo tidak hanya sebagai ruang pameran, tetapi juga wadah pertukaran gagasan dan perspektif mengenai berbagai persoalan yang terjadi di kawasan Borneo.

Kurator Art Borneo 2026, M. Faozi Yunanda, mengatakan terdapat beberapa kata kunci yang menjadi benang merah dalam penyelenggaraan pameran tahun ini, yakni ekologi sosial, ingatan, dan identitas.

Berbagai gagasan tersebut kemudian dituangkan para seniman melalui karya dengan pendekatan yang beragam.

Karya yang ditampilkan antara lain berupa instalasi, fotografi, hingga karya yang menggunakan material temuan dari lokasi residensi. Penggunaan material dan pendekatan tersebut menjadi bagian dari proses para seniman dalam membaca lingkungan serta konteks sosial di sekitarnya.

Selain seniman dari Indonesia, Art Borneo 2026 juga menghadirkan seniman dari Malaysia dan Brunei Darussalam. Sejumlah seniman undangan turut berpartisipasi, di antaranya FX Harsono, Taring Padi, Lelaku Studio, dan Yee I-Lann.

Direktur Art Borneo, Nisa, mengatakan keterlibatan seniman dari berbagai wilayah menjadi bagian penting dalam membangun ruang pertemuan seni di kawasan Borneo.

Menurutnya, keberagaman latar belakang para seniman memungkinkan munculnya beragam sudut pandang yang kemudian dapat dipertemukan melalui karya.

Art Borneo 2026 pun menjadi ruang untuk melihat Borneo tidak hanya dari sisi geografis, tetapi juga melalui pengalaman, ingatan, identitas, serta persoalan yang hidup di tengah masyarakatnya.

Melalui pertemuan lintas negara tersebut, Art Borneo diharapkan dapat memperkuat jejaring seni sekaligus membuka ruang dialog yang lebih luas antara seniman dan masyarakat.

Pameran ini sekaligus menunjukkan bahwa seni dapat menjadi medium untuk mempertemukan berbagai perspektif mengenai lingkungan, kehidupan sosial, dan identitas masyarakat di kawasan Borneo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *