Oktober 30, 2026

8 Orangutan Korban Karhutla Dilepasliarkan ke Hutan Lindung Ketapang

0
Screenshot

KATAKALBAR – Sebanyak delapan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilepasliarkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada 9 Oktober 2026. Langkah ini dilakukan setelah habitat asal mereka terbakar dan tidak lagi mendukung kebutuhan hidup satwa tersebut.

Translokasi atau pemindahan satwa ke habitat yang sesuai ini dilakukan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kalbar, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Ketapang Utara, dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

Kegiatan tersebut turut didukung Camat Hulu Sungai, masyarakat, unsur TNI-Polri, serta pemangku adat setempat.

Delapan orangutan yang dilepasliarkan terdiri atas tiga pasangan induk dan anak serta dua individu jantan remaja. Mereka sebelumnya diselamatkan dari sejumlah lokasi terdampak karhutla di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara sepanjang Agustus hingga September 2026.

Kebakaran telah menghilangkan tutupan hutan, memutus konektivitas antarkawasan, dan membuat orangutan terjebak di area perkebunan dengan sumber pakan serta ruang hidup yang terbatas.

Habitat Terbakar, Orangutan Terjebak di Perkebunan

Salah satu pasangan yang diselamatkan adalah Mama Man dan anaknya, Man, dari Desa Tempurukan, Kabupaten Ketapang. Keduanya telah terpantau sejak pertengahan Juni 2026 di area perkebunan warga yang berbatasan dengan sepetak hutan.

Namun, kebakaran yang meluas hingga mendekati lokasi tersebut membuat habitat mereka semakin terbatas. Keduanya tidak memiliki jalur aman menuju kawasan hutan lain sehingga harus dievakuasi pada 3 September 2026 akibat ancaman api dan paparan asap.

Empat orangutan lainnya berasal dari Desa Pemangkat, Kabupaten Kayong Utara. Mereka terdiri atas Mama Nopi dan anaknya, Nopi, serta dua orangutan jantan remaja bernama Naufal dan Nopan.

Keempatnya diselamatkan pada 4 September 2026 setelah bertahan di perkebunan kelapa dan karet milik warga. Kebakaran yang menghanguskan hutan di sekitarnya membuat ruang jelajah dan akses terhadap sumber pakan semakin terbatas, sekaligus meningkatkan risiko interaksi dengan manusia.

Sementara itu, Mama Lifa dan anaknya, Lifa, ditemukan terisolasi di antara sejumlah pohon akasia di Desa Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang.

Keduanya berada di area sekitar 400 meter persegi yang dikelilingi perkebunan kelapa sawit. Kondisi habitat yang terdampak kebakaran dan minimnya sumber pakan mendorong penyelamatan pada 18 September 2026.

Hutan Lindung Batu Nyambu Dipilih sebagai Habitat Baru

Hutan Lindung Batu Nyambu dipilih berdasarkan kajian kesesuaian habitat dan daya dukung ekologis. Kawasan seluas sekitar 23.000 hektare ini memiliki tutupan hutan primer dan sekunder, dengan bentang alam mulai dari hutan dataran rendah hingga sub-pegunungan.

Survei pada 2023 menunjukkan kawasan tersebut merupakan habitat alami orangutan dengan estimasi daya dukung ekologis yang memadai. Batu Nyambu juga menyediakan beragam tumbuhan pakan, pohon untuk membangun sarang, serta sumber air alami.

Selain itu, kawasan ini memiliki keterhubungan dengan sejumlah hutan lindung lain dalam lanskap Arabella–Schwaner. Konektivitas tersebut memungkinkan orangutan menjelajahi wilayah yang lebih luas untuk mencari pakan, terutama ketika ketersediaan buah berubah mengikuti musim.

Direktur Operasional YIARI, Argitoeranting, mengatakan pemilihan lokasi translokasi harus mempertimbangkan kondisi habitat dan kemampuan kawasan untuk mendukung kehidupan orangutan.

Ia mengatakan di tengah kebakaran hutan dan lahan yang masih berlangsung, pihaknya dihadapkan pada situasi sulit. Banyak orangutan kehilangan habitatnya, sementara kawasan hutan yang aman untuk menampung semakin terbatas. Karena itu, Hutan Lindung Batu Nyambu dipilih berdasarkan kajian daya dukung dan kesesuaian habitat yang menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki ketersediaan pakan, sumber air, ruang jelajah, serta keterhubungan dengan kawasan hutan lainnya.

Pihaknya ingin memastikan orangutan yang telah diselamatkan tidak hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi benar-benar memiliki kesempatan untuk bertahan hidup di habitat alaminya.

“Bahkan di tengah-tengah situasi Karhutla ini, lokasi ini masih cukup aman dan tidak pernah terbakar sejauh ini. Namun, translokasi bukanlah solusi akhir. Selama kebakaran masih berlangsung dan habitat terus terancam, upaya penyelamatan harus dibarengi dengan perlindungan hutan yang tersisa agar semakin banyak orangutan tidak kehilangan rumahnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, sejumlah orangutan lainnya masih menjalani perawatan intensif di Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI akibat luka bakar, malnutrisi, anemia berat, dan gangguan kesehatan lainnya.

“Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap masih terus mengancam habitat orangutan di Kalimantan Barat. Kondisi ini membuat upaya penyelamatan tetap mendesak, mengingat masih banyak orangutan yang bertahan di kawasan terdampak kebakaran dan membutuhkan pertolongan,” tambahnya lagi.

Delapan Orangutan Dipastikan Sehat Sebelum Dilepasliarkan

Sebelum dipindahkan, kedelapan orangutan menjalani pemeriksaan kesehatan, perawatan sesuai kebutuhan medis, dan observasi di fasilitas YIARI. Mereka dinyatakan dalam kondisi sehat serta masih menunjukkan perilaku alami sebagai satwa liar.

Perjalanan dimulai sejak dini hari dari Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI di Sungai Awan, Kabupaten Ketapang. Tim menempuh perjalanan darat sekitar enam jam, dilanjutkan perjalanan menggunakan perahu selama satu jam dan berjalan kaki sekitar dua jam menuju titik pelepasan.

Selama perjalanan menggunakan perahu, kandang transportasi dilengkapi pelampung untuk menjaga keselamatan. Pada jalur menuju titik pelepasan, kandang dipikul dengan bantuan masyarakat setempat.

Dokter hewan juga memeriksa kondisi orangutan secara berkala serta memastikan kebutuhan pakan dan air minum tetap terpenuhi.

Pelepasan dimulai pukul 12.00 WIB secara bergiliran di beberapa titik yang berjarak sekitar 80 meter satu sama lain. Setelah pelepasan, tim melakukan pemantauan singkat dengan menjaga jarak dan meminimalkan kehadiran manusia agar orangutan tidak mengalami stres dan dapat kembali beraktivitas secara alami.

Sebanyak 46 Orangutan Terdampak Karhutla Telah Diselamatkan

Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyampaikan bahwa upaya penyelamatan orangutan terdampak karhutla terus dilakukan bersama YIARI.

Sejak 1 Agustus hingga 9 Oktober 2026, Balai KSDA Kalimantan Barat bersama YIARI telah melakukan upaya penyelamatan terhadap 46 individu orangutan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan.

Dan untuk pertama kalinya, orangutan yang terdampak karhutla mulai ditranslokasi ke habitat yang sesuai dan relatif aman dari risiko kebakaran, yaitu Hutan Lindung Batu Nyambu, setelah dinyatakan sehat.

”Upaya penyelamatan satwa liar tidak berhenti pada penyelamatan dan translokasi. Keduanya merupakan bagian dari strategi konservasi yang lebih luas. Hal terpenting adalah bagaimana kita bersama-sama menyediakan ‘rumah’ yang aman dan layak bagi satwa liar,” ujarnya.

Murlan juga mengapresiasi masyarakat yang telah melaporkan keberadaan orangutan yang membutuhkan evakuasi akibat karhutla serta seluruh pihak yang terlibat dalam proses penyelamatan hingga translokasi.

CEO YIARI, Karmele Llano Sánchez, mengatakan pelepasliaran tersebut memberikan kesempatan bagi orangutan untuk kembali hidup bebas di habitat alaminya.

Ia mengatakan bahwa ini adalah momen yang sangat membahagiakan, karena orangutan liar seharusnya hidup bebas di habitat alaminya, bukan terkurung di kandang. Orangutan-orangutan ini telah mengalami trauma dan berbagai dampak akibat kebakaran hutan yang menghancurkan habitat mereka, hingga mereka kehilangan tempat tinggal.

Meskipun begitu, pihaknya juga harus menyadari bahwa translokasi seperti ini merupakan langkah yang terpaksa harus diambil ketika habitat mereka sudah tidak lagi aman.

“Perlindungan habitat akan selalu menjadi prioritas utama untuk memastikan orangutan tetap memiliki hutan yang aman untuk hidup, namun selama habitat mereka masih terancam, penyelamatan menjadi salah satu pilihan terbaik yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka bertahan hidup,” ujar Karmele.

Sementara itu, Kepala KPH Ketapang Utara, Ya’ Suharnoto, menilai pemilihan Hutan Lindung Batu Nyambu merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan ekosistem hutan.

“Translokasi ini bukan sekedar pemindahan fisik satwa, melainkan bagian dari mitigasi risiko jangka panjang dan strategi penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem di habitat aslinya,” ujarnya.

Ia berharap pengamanan kawasan terus diperkuat melalui sosialisasi, patroli rutin, serta penanaman pohon yang menghasilkan bunga dan buah sebagai sumber pakan orangutan.

Pelepasliaran delapan orangutan ini menjadi salah satu langkah penyelamatan di tengah ancaman karhutla di Kalimantan Barat. Namun, perlindungan habitat tetap menjadi upaya penting agar satwa liar tidak terus kehilangan ruang hidup dan harus dievakuasi akibat kebakaran hutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *