DLHK Kalbar Pantau Lahan Bekas Karhutla, Aktivitas Penanaman Jadi Perhatian
KATAKALBAR – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kalimantan Barat (Kalbar) tetap melakukan pemantauan terhadap lahan yang sebelumnya terbakar meski musim kemarau mulai berakhir dan hujan turun.
Kepala DLHK Kalbar, Adi Yani, mengatakan pemantauan dilakukan untuk memastikan tidak ada aktivitas yang berpotensi berkaitan dengan pembakaran lahan.
DLHK akan bekerja sama dengan TNI dan Polri untuk menelusuri sejumlah lokasi bekas kebakaran.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah aktivitas pengolahan tanah dan penanaman di lahan yang sebelumnya terbakar.
“Setelah musim kemarau ini selesai, ada hujan, maka kami kerja sama dengan teman-teman, misal dengan TNI, Polri, kami melakukan penelusuran di lokasi-lokasi bekas terbakar ini,” kata Adi Yani.
Menurutnya, aktivitas pemanfaatan lahan bekas terbakar akan menjadi bagian dari pemantauan di lapangan.
Jika ditemukan perusahaan yang melakukan aktivitas di lahan bekas terbakar dan terdapat dugaan pelanggaran, persoalan tersebut dapat masuk ke ranah penegakan hukum.
“Kalau perusahaan-perusahaan yang melakukan itu pasti tidak kita tinggal diam. Ini sudah ranahnya penegakan hukum,” ujarnya.
Mitigasi Tidak Berhenti Setelah Hujan
Adi Yani menegaskan, penanganan karhutla tidak selesai setelah api dipadamkan atau hujan turun.
Menurutnya, pemantauan pascakebakaran merupakan bagian penting dari mitigasi agar kebakaran tidak kembali terjadi.
Dalam satu hingga dua bulan setelah kebakaran, kondisi lahan bekas terbakar akan diperhatikan. Termasuk melihat apakah ada masyarakat atau perusahaan yang kembali mengolah dan memanfaatkan lahan tersebut.
Apabila ditemukan masyarakat yang melakukan pengolahan lahan, DLHK akan melakukan sosialisasi agar aktivitas tersebut tidak dilakukan dengan cara membakar.
“Setidak-tidaknya kalau masyarakat yang melakukan pengolahan lahan dan menanam, nah ini yang harus kita lakukan sosialisasi kepada yang bersangkutan,” katanya.
Adi Yani juga mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap karhutla selesai hanya karena hujan sudah turun.
Sebab, titik panas masih dapat muncul di Kalbar meski tidak sedang berada pada puncak musim kemarau.
“Jangan kita euforia setelah ada hujan selesai tugas kami, padahal itulah tugas berat kami untuk mensosialisasikan pada masyarakat,” tegasnya.
