Oktober 30, 2026

Gubernur Perkuat Deteksi Dini Karhutla di Desa

0
Screenshot

KATAKALBAR — Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas di Kalimantan Barat diperkuat dari tingkat desa. Pemerintah Provinsi Kalbar mendorong Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk meningkatkan pemantauan dan deteksi dini terhadap potensi kebakaran.

Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengatakan langkah tersebut penting dilakukan di tengah kondisi musim kemarau yang membuat sejumlah lahan dan kawasan hutan menjadi lebih kering.

Hal itu disampaikan Norsan saat menghadiri Sosialisasi Penyuluhan Masyarakat Peduli Api (MPA) di Aula Kantor Bupati Kayong Utara, Senin (21/9).

Menurutnya, MPA memiliki posisi penting karena berada langsung di tengah masyarakat. Relawan di tingkat desa dapat menjadi bagian dari sistem deteksi awal ketika muncul potensi kebakaran.

“Sekarang saatnya kita bersatu untuk menghadapi musibah yang sedang menimpa daerah kita ini. Jangan lagi saling menyalahkan antara satu pihak dengan pihak lainnya. Mari kita tinggalkan budaya saling menuding dan fokus memberikan perhatian penuh bersama seluruh elemen masyarakat,” ujar Norsan.

Sosialisasi tersebut diikuti relawan MPA dari 10 desa di Kecamatan Sukadana. Kegiatan juga dihadiri Bupati Kayong Utara Romi Wijaya, Wakil Bupati, Forkopimda, kepala OPD, camat, kepala desa, tokoh masyarakat dan tokoh agama.

Norsan menekankan bahwa penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Koordinasi mulai dari pemerintah daerah hingga tingkat desa perlu berjalan bersama agar potensi kebakaran dapat segera ditangani.

“Pemerintah kabupaten, kota, kecamatan, hingga tingkat desa harus berjalan selaras dan seirama memberikan perhatian penuh bersama Forkopimda dan pusat,” tegasnya.

Selain memperkuat pengawasan di tingkat desa, penanganan karhutla di Kalbar juga melibatkan personel gabungan dari berbagai unsur.

Norsan menyebut sedikitnya 15.000 personel saat ini terlibat dalam upaya pemadaman dan penanganan karhutla di Kalimantan Barat.

“Kita patut bersyukur bahwa sampai saat ini tidak kurang dari 15.000 personel gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Kepolisian Daerah (Polda Kalbar), Kodam XII/Tanjungpura, Manggala Agni, BPBD baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, serta unsur masyarakat peduli api dan berbagai organisasi kemasyarakatan bahu-membahu memadamkan api,” katanya.

Keterlibatan masyarakat, lanjut Norsan, menjadi bagian penting karena tidak semua wilayah dapat dipantau petugas secara langsung. Kehadiran MPA di desa diharapkan dapat mempercepat penyampaian informasi ketika ditemukan titik api atau kondisi yang berpotensi memicu kebakaran.

Penguatan deteksi dini tersebut diharapkan membuat penanganan dapat dilakukan sebelum api meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar, termasuk kabut asap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *