Oktober 30, 2026

Menuju Pusat Ekonomi Syariah Timur Indonesia, Kalbar Siap Tampilkan Potensi di FESyar KTI 2025

0
WhatsApp Image 2025-09-15 at 02.16.47

Suasana saat Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia/Dok. Bank Indonesia

KATAKALBAR – Kalimantan Barat bersiap melangkah lebih jauh dalam peta ekonomi syariah nasional. Sebagai tuan rumah Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia 2025, provinsi ini akan menjadi panggung penting penguatan ekosistem halal dan pembiayaan syariah di kawasan timur Indonesia.

Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada 29 Agustus hingga 1 September 2025 di Pontianak, dan merupakan bagian dari rangkaian menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF), festival ekonomi syariah terbesar di Tanah Air.

“FESyar bukan hanya festival, tapi momentum strategis. Ini saatnya Kalbar unjuk gigi sebagai pemain utama dalam rantai nilai halal nasional,” tegas Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalbar, Doni Septadijaya, dalam konferensi pers di Pontianak.

FESyar KTI 2025 akan melibatkan 22 provinsi di kawasan timur Indonesia, dengan fokus pada pengembangan produk halal, pembiayaan syariah, pemberdayaan UMKM, dan pariwisata ramah Muslim.

Selama empat hari pelaksanaan, festival ini akan menghadirkan forum ilmiah, pameran produk halal, kompetisi ekonomi syariah, dan berbagai pelatihan yang menyasar pelaku usaha dan masyarakat umum.

“Kami mengajak seluruh pihak, termasuk media, akademisi, dan komunitas, untuk mengambil peran aktif dalam mendorong literasi dan inklusi ekonomi syariah,” ujar Doni.

Menurut laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2024/2025, Indonesia kini menempati peringkat ketiga dunia dalam indeks ekonomi syariah global dengan skor 99,9. Target nasional adalah menjadikan Indonesia pusat ekonomi syariah dunia pada 2029.

“FESyar ini adalah bagian dari langkah besar menuju target itu. Kalbar punya potensi untuk menjadi katalisator di wilayah timur,” tambah Doni.

Di Kalbar sendiri, peluang masih terbuka lebar. Dari 34 Rumah Potong Hewan (RPH) dan Rumah Potong Unggas (RPU), baru 16 unit yang bersertifikat halal. Kapasitasnya baru memenuhi 15% kebutuhan daging tahunan.

Di sektor pariwisata, dari 30 desa wisata, belum satu pun yang tersertifikasi halal. Padahal, tren wisata halal terus meningkat, seiring tumbuhnya gaya hidup halal di kalangan generasi muda dan wisatawan Muslim domestik maupun mancanegara.

Potensi konsumsi halal Kalbar juga sangat besar — mencapai Rp33,96 triliun per tahun, dengan populasi Muslim sebanyak 60,2 persen dari total penduduk.

“Sayangnya, banyak kuliner di kota besar seperti Pontianak dan Singkawang masih mengandalkan label halal mandiri, belum tersertifikasi. Ini yang harus kita benahi,” jelas Doni.

Sebagai bentuk komitmen konkret, Bank Indonesia Kalbar telah memfasilitasi:

  • 300 UMKM mendapatkan sertifikasi halal

  • 6 RPH terpilih disertifikasi sesuai standar

  • Pusat Informasi Halal Kalbar didirikan sebagai ruang edukasi dan konsultasi

  • Pendampingan 8 pondok pesantren untuk program ekonomi mandiri

  • Pengembangan UMKM melalui program Industri Kreatif Syariah (IKRA) agar bisa ekspor

Dengan dukungan pemerintah daerah, kementerian, komunitas pesantren, akademisi, dan pelaku usaha, Kalbar disebut siap melangkah menjadi kawasan strategis pengembangan ekonomi syariah nasional.

“Kami yakin, dengan FESyar sebagai momentum, Kalbar tidak hanya sukses sebagai tuan rumah, tetapi juga siap menjadi motor utama ekonomi syariah di timur Indonesia,” tutup Doni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *