Oktober 30, 2026

Vegetasi Mudah Terbakar, Kalbar Diminta Waspada

0
Screenshot

KATAKALBAR – Sejumlah wilayah di Kalimantan Barat (Kalbar) memasuki periode dengan kondisi vegetasi yang lebih mudah terbakar pada 21–27 September 2026.

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi tersebut perlu diwaspadai karena vegetasi yang mengering dapat meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Koordinator Harian Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan selama periode tersebut.

Ia menjelaskan, warna merah pada peta potensi kemudahan terbakar yang dikeluarkan BMKG tidak menunjukkan adanya api. Warna tersebut menggambarkan kondisi vegetasi yang sudah mengering sehingga lebih mudah terbakar.

“Warna merah ini bukan melambangkan, bukan simbol api, tetapi ini adalah simbol bahwa vegetasi di wilayah tersebut sudah mengering sehingga berpotensi terjadi karhutla,” kata Daniel, Senin (21/9).

Kewaspadaan diperlukan karena penanganan karhutla masih berlangsung di sejumlah wilayah Kalbar.

Pada Senin (21/9), terdeteksi 362 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sebarannya meliputi Kabupaten Ketapang sebanyak 294 titik, Kayong Utara 39 titik, Melawi 17 titik, Sekadau 9 titik, dan Sintang 3 titik.

Namun, Daniel menegaskan titik panas tersebut belum dapat langsung disebut sebagai titik api. Satgas darat dan udara masih melakukan verifikasi untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.

“362 ini belum tentu api, ini hanya titik panas. Untuk membuktikan itu api maka perlu dilakukan verifikasi melalui satgas darat dan satgas udara,” ujarnya.

Saat ini, operasi pemadaman dan pendinginan masih dilakukan di Kabupaten Kayong Utara dan Ketapang. Sejumlah titik kecil di Kabupaten Kubu Raya juga masih dalam penanganan.

Jarak Pandang Jadi Kendala Operasi Udara

Selain kondisi vegetasi, jarak pandang akibat kabut asap turut menjadi kendala dalam operasi udara.

Berdasarkan informasi BMKG per 21 September, jarak pandang di Pontianak berada pada kisaran 1–5 kilometer. Sementara itu, jarak pandang di Kapuas Hulu, Ketapang, dan Kubu Raya tercatat kurang dari satu kilometer.

Kondisi tersebut membuat satgas udara tidak dapat melakukan operasi ketika jarak pandang berada pada tingkat yang terlalu rendah.

Daniel juga mengingatkan bahwa kabut asap yang menyelimuti suatu wilayah tidak selalu berasal dari kebakaran di wilayah tersebut. Pergerakan angin dapat membawa asap dari wilayah lain yang mengalami kebakaran di Pulau Kalimantan.

OMC Bergantung pada Pertumbuhan Awan

Untuk mendukung penanganan karhutla, Pemprov Kalbar juga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Namun, pelaksanaan OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer, terutama keberadaan awan konvektif yang dapat menjadi sasaran operasi.

“OMC ini sangat ditentukan oleh pembentukan awan konvektif,” katanya.

Di sisi lain, BMKG pada Senin (21/9) memprakirakan hujan berpotensi terjadi di hampir seluruh wilayah kabupaten dan kota di Kalbar dengan intensitas ringan hingga sedang.

Hujan tersebut diharapkan dapat membantu proses pemadaman dan pendinginan lahan yang masih terbakar.

Menghadapi periode vegetasi mudah terbakar pada 21–27 September, BPBD Kalbar mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan.

Masyarakat juga diminta tidak membuat maupun menyebarkan video hoaks yang dapat menimbulkan kegaduhan dan keresahan di tengah kondisi kabut asap yang masih terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *