Oktober 30, 2026

Karhutla Dorong Orangutan Keluar Habitat, Empat Individu Diselamatkan di Ketapang

0
Screenshot

KATAKALBAR – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak terhadap habitat satwa liar mendorong empat individu orangutan keluar dari kawasan hutan dan masuk ke area perkebunan warga di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Kondisi tersebut mendapat respons cepat dari tim gabungan yang melibatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Balai Taman Nasional Gunung Palung (TNGP), Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), serta masyarakat setempat.

Sepanjang Agustus 2026, tim gabungan melakukan dua operasi penyelamatan berbeda dan berhasil mengevakuasi empat orangutan yang menghadapi ancaman akibat rusaknya habitat mereka.

Operasi terbaru berlangsung pada Jumat (21/8/2026) di Desa Tanjung Pura, Kecamatan Muara Pawan. Tiga orangutan ditemukan terisolasi di kebun milik warga setelah kawasan hutan yang menjadi habitatnya terdampak kebakaran.

Ketiganya terdiri dari seekor induk betina dewasa berusia sekitar 18 tahun, anak jantan berusia 8–10 bulan, serta seekor remaja betina berusia sekitar delapan tahun.

Terdesak oleh kondisi habitat yang terbakar, ketiga orangutan tersebut bergerak mendekati perkebunan yang berada tidak jauh dari permukiman warga untuk mencari perlindungan.

Proses penyelamatan dimulai sejak pukul 05.00 WIB. Tim berhasil melakukan pembiusan terhadap induk betina dan anaknya pada pukul 11.15 WIB. Sementara itu, remaja betina berhasil dievakuasi setelah pembiusan dilakukan pada pukul 15.10 WIB.

Ketiga orangutan kemudian menjalani pemeriksaan kesehatan oleh dokter hewan YIARI. Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi ketiganya sehat dan masih memiliki sifat liar yang baik.

Dengan kondisi tersebut, ketiganya dinilai layak untuk langsung dikembalikan ke habitat yang lebih aman. Setelah menempuh perjalanan melalui jalur sungai dari Dermaga Batu Barat, ketiga orangutan akhirnya dilepasliarkan pada pukul 20.30 WIB di kawasan Taman Nasional Gunung Palung.

Sementara itu, penyelamatan sebelumnya dilakukan pada 6 Agustus 2026 di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara. BKSDA Kalbar Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang bersama YIARI dan PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha) mengevakuasi seekor orangutan jantan.

Orangutan tersebut sebelumnya ditemukan warga berada di perkebunan buah pada Juli 2026.

Salah satu warga setempat, Morsali, menyebut konflik antara satwa dan manusia serta kejadian kebakaran kerap berulang sejak pembukaan lahan dilakukan di sekitar wilayah tersebut saat musim kemarau.

Kondisi itu membuat orangutan kehilangan habitat dan terpaksa mencari sumber makanan maupun tempat berlindung di luar kawasan hutan.

Setelah berhasil dievakuasi, orangutan jantan tersebut kemudian ditranslokasi ke kawasan yang masih memiliki tutupan lahan cukup baik, yakni area High Conservation Value (HCV) milik PT Mopakha.

Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat menekankan pentingnya komitmen bersama dalam menjaga keutuhan kawasan hutan maupun wilayah lain yang memiliki nilai konservasi tinggi.

Upaya mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan dinilai penting bukan hanya untuk menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga memastikan habitat yang mendukung kehidupan manusia dan satwa liar tetap tersedia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *