MPLS Sekolah Cerlang Libatkan Orang Tua, Ayah Memasak dan Ibu Siapkan Perlengkapan Belajar Anak
KATAKALBAR – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Alam Terpadu Cerlang Pontianak tahun ini dikemas dengan konsep yang mengedepankan kolaborasi keluarga.
Berbeda dari umumnya, kegiatan orientasi tidak hanya diikuti peserta didik baru, tetapi juga melibatkan orang tua secara aktif sejak hari pertama.
Sejak pagi, para siswa bersama ayah dan ibu mengikuti sesi perkenalan yang berlangsung dalam suasana hangat. Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi keluarga baru untuk saling mengenal sebelum memulai proses belajar mengajar pada tahun ajaran 2026/2027.
Setelah sesi perkenalan, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok. Para ayah mendapat tugas memasak makan siang bersama menggunakan bahan makanan yang telah dibawa dari rumah. Di sisi lain, para ibu membantu menyiapkan seluruh perlengkapan belajar anak, mulai dari menyusun buku, alat tulis hingga kebutuhan sekolah lainnya di ruang kelas. Sementara itu, anak-anak diberi kesempatan bereksplorasi melalui berbagai aktivitas kreatif.
Kebersamaan semakin terasa saat seluruh peserta menikmati makan saprahan. Hidangan sederhana hasil olahan para ayah, seperti telur goreng, tempe, tahu, dan tumis sayur, disantap bersama guru, orang tua, dan siswa. Anak-anak dari jenjang PAUD, TK, hingga SD juga berkontribusi dengan menyiapkan buah-buahan sebagai pencuci mulut.
Rangkaian MPLS kemudian ditutup dengan pertemuan antara pihak sekolah dan orang tua untuk membahas arah pembelajaran serta program pendidikan yang akan dijalankan selama satu semester ke depan.
Pendiri Sekolah Alam Terpadu Cerlang, Sri Wartati, mengatakan konsep MPLS tersebut sengaja dirancang untuk memperkuat hubungan antara sekolah dan keluarga. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada proses belajar di kelas, tetapi juga pada keterlibatan orang tua di rumah.
“Di Cerlang, MPLS bukan hanya untuk anak, tetapi juga menjadi ruang bagi orang tua mengenal program sekolah sekaligus membangun kedekatan dengan keluarga lain. Kami ingin terjalin komunikasi yang baik sejak awal,” ujarnya usai kegiatan, Minggu (19/7/2026).
Sri menjelaskan, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti kegiatan bersama tanpa dibedakan berdasarkan jenjang pendidikan. Setelah itu, barulah anak-anak diarahkan ke kelas masing-masing sesuai tingkatannya.
Ia menilai orang tua memiliki peran yang tidak tergantikan dalam proses tumbuh kembang anak. Sebab, waktu yang dihabiskan anak bersama keluarga jauh lebih banyak dibandingkan saat berada di sekolah.
“Rumah adalah tempat pertama anak belajar dan orang tua merupakan guru utama. Sekolah hadir sebagai mitra untuk mendukung proses tersebut. Karena itu, keterlibatan keluarga menjadi bagian penting dalam pendidikan yang kami bangun,” katanya.
Menurut Sri, tantangan perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat sinergi antara sekolah dan keluarga menjadi semakin penting. Ia berharap komunikasi yang terjalin sejak kegiatan MPLS dapat menjadi fondasi dalam mendampingi anak menghadapi berbagai pengaruh di lingkungan sekitarnya.
