Hadapi 7.377 Hotspot, Pemprov Kalbar Genjot Pemadaman dan Patroli
KATAKALBAR — Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia. Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat pengendalian kebakaran di tengah tingginya titik panas yang masih terdeteksi di sejumlah wilayah Kalbar.
Gubernur Kalbar Ria Norsan menegaskan penanganan Karhutla dilakukan secara terpadu dengan melibatkan seluruh unsur Satgas, termasuk penguatan patroli, pemadaman dini hingga dukungan pemadaman melalui udara.
“Seluruh personel dan sumber daya yang tersedia terus kita kerahkan secara maksimal. Penanganan dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan untuk memastikan titik-titik kebakaran dapat segera dikendalikan serta tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas,” kata Norsan, Senin (31/8).
Pemprov Kalbar saat ini memperkuat patroli mobil dan pemadaman dini atau initial attack selama 24 jam di kawasan rawan. Strategi tersebut diarahkan agar setiap titik api dapat segera ditemukan dan ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
“Kami meminta seluruh jajaran di lapangan untuk terus memperkuat patroli dan pemadaman dini. Semakin cepat api ditemukan dan dipadamkan, semakin kecil risiko kebakaran meluas terutama pada kawasan gambut yang sangat rentan,” ujarnya.
Selain pemadaman pada siang hari, operasi malam juga diperkuat. Kondisi suhu yang lebih rendah dan kelembapan udara yang lebih tinggi dinilai dapat mendukung efektivitas pemadaman.
Pemprov juga melakukan pembasahan lahan gambut atau rewetting, mengoptimalkan pembangunan sekat bakar serta penggunaan pompa bertekanan tinggi untuk menjaga kelembapan lahan yang rawan terbakar.
Langkah lain yang diperkuat adalah koordinasi dukungan pemadaman udara. Water bombing diarahkan ke lokasi-lokasi yang sulit dijangkau tim darat, terutama kawasan dengan keterbatasan akses dan sumber air.
“Koordinasi dengan BPBD, BNPB dan seluruh unsur terkait terus dilakukan agar dukungan water bombing dapat diprioritaskan pada lokasi-lokasi yang sulit dijangkau oleh tim darat,” tambahnya.
Satgas Diperkuat di Lapangan
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Kalbar, Ganda Butarbutar, mengatakan upaya penanganan terus dilakukan secara bersama-sama oleh unsur pemerintah dan Satgas Karhutla.
Hingga 31 Agustus 2026, berdasarkan pemantauan sistem SIPONGI, tercatat 7.377 titik panas di seluruh Kalbar. Sebanyak 455 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi (high), 6.842 tingkat kepercayaan sedang (medium), dan 80 titik tingkat kepercayaan rendah (low).
“Data pemantauan menunjukkan sebaran titik panas masih cukup tinggi di sejumlah wilayah. Karena itu seluruh UPT KPH bersama TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Satgas perusahaan dan Masyarakat Peduli Api terus melakukan patroli, pemadaman serta pengawasan secara intensif di lapangan,” ujar Ganda.
Pemprov Kalbar melalui DLHK bersama unsur Satgas terus memusatkan penanganan pada lokasi-lokasi prioritas.
Di Kabupaten Kubu Raya, pemadaman dilakukan di Desa Sungai Ambawang Kuala, Kecamatan Sungai Ambawang. Operasi bahkan dilanjutkan hingga malam hari untuk melokalisir kebakaran lahan gambut di sekitar permukiman warga.
Di Kabupaten Ketapang, tim gabungan menangani kebakaran di Desa Simpang Tiga Sembelangaan, Kecamatan Nanga Tayap. Area yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 1.000 hektare.
Karena keterbatasan akses darat dan jauhnya sumber air, tim di lapangan mengusulkan dukungan water bombing untuk mempercepat pemadaman.
Sementara di Kabupaten Kapuas Hulu, pemadaman dilakukan di Desa Buak Limbang, Kecamatan Pengkadan, pada area terbakar sekitar 400 hektare dengan dukungan tim gabungan dan armada PT CAE.
Penanganan juga terus dilakukan di Kabupaten Kayong Utara dan Mempawah yang menghadapi kendala minimnya ketersediaan air akibat mengeringnya parit dan kanal. Angin kencang serta asap tebal turut menjadi tantangan bagi petugas di lapangan.
Ganda menegaskan DLHK Kalbar bersama Satgas Karhutla akan terus memperkuat patroli, pemadaman dini, operasi malam hari, pembasahan lahan gambut dan koordinasi pemadaman udara.
Langkah tersebut menjadi penting karena berdasarkan peta potensi kemudahan terjadinya Karhutla dari BMKG Stasiun Meteorologi Supadio, hampir seluruh wilayah Kalimantan Barat masih berada pada kategori Sangat Mudah Terbakar hingga 5 September 2026.
Di tengah kondisi tersebut, Pemprov Kalbar juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.
“Masyarakat memiliki peran penting dalam pencegahan Karhutla. Jangan membuka lahan dengan cara membakar. Jika melihat adanya titik api, segera laporkan agar dapat ditangani lebih cepat sebelum meluas,” tegasnya.
Norsan juga meminta masyarakat ikut mengantisipasi dampak kabut asap dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan yang tidak mendesak dan menggunakan masker medis atau masker N95 ketika beraktivitas di wilayah terdampak.
“Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama. Kami berharap seluruh elemen masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan dan mendukung upaya penanganan Karhutla yang sedang dilakukan,” pungkas Norsan.
