Oktober 30, 2026

Karhutla Mendekat, Mama Man dan Anaknya Diselamatkan

0
PHOTO-2026-09-05-10-57-28 3

KATAKALBAR — Karhutla kembali mengancam satwa liar di Kalimantan Barat. Kali ini, seekor orangutan betina dewasa bersama anaknya harus dievakuasi dari Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang.

Keduanya kemudian diberi nama Mama Man dan Man.

Evakuasi dilakukan BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI pada Kamis, 3 September 2026.

Tim sebelumnya sudah meningkatkan patroli di sejumlah lokasi rawan karhutla sejak 1 September.

Dua hari berselang, laporan mengenai keberadaan Mama Man dan Man diterima tim.

Keduanya sebenarnya sudah terpantau sejak pertengahan Juni di area perkebunan warga yang berbatasan dengan kawasan hutan.

Namun, situasinya berubah ketika karhutla semakin meluas.

Api mulai mendekati habitat mereka.

Ruang untuk bergerak semakin terbatas. Tidak ada lagi jalur aman yang bisa digunakan keduanya untuk berpindah.

Tim kemudian memutuskan melakukan evakuasi.

Sekitar pukul 06.30 WIB, tim tiba di lokasi bersama dokter hewan YIARI.

Mama Man yang diperkirakan berusia sekitar 20 tahun kemudian dibius agar proses penyelamatan lebih aman.

Sekitar 10 menit kemudian, induk orangutan berhasil dievakuasi menggunakan jaring.

Yang bikin lega, anaknya tetap berada bersama sang induk selama proses evakuasi.

Pemeriksaan awal juga tidak menemukan luka fisik maupun luka bakar pada Mama Man.

Sementara itu, Man yang merupakan orangutan jantan dan diperkirakan masih berusia kurang dari satu tahun terlihat aktif saat diperiksa.

Namun, tim menemukan ingus dan cairan kering di sekitar hidungnya.

Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan paparan asap akibat karhutla.

Dokter hewan YIARI, drh Komara, mengatakan paparan asap dalam jangka waktu tertentu tetap perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi sistem pernapasan orangutan.

Kini Mama Man dan Man menjalani pemantauan kesehatan di pusat penyelamatan dan rehabilitasi YIARI.

Jika kondisi karhutla sudah aman, tim akan melakukan penilaian untuk menentukan lokasi yang sesuai bagi pelepasliaran keduanya.

Namun, kasus ini menunjukkan ancaman karhutla terhadap orangutan semakin serius.

Dalam waktu kurang dari satu bulan, BKSDA Kalbar bersama YIARI telah menyelamatkan sedikitnya sembilan orangutan yang terdampak ancaman karhutla di sejumlah lokasi di Ketapang.

Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, menyebut kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan.

Sebab, ketika habitat terbakar atau dikelilingi api, orangutan kehilangan tempat untuk berlindung dan mencari makan.

Mereka akhirnya bergerak keluar dari habitat untuk mencari lokasi yang lebih aman.

Namun, perpindahan itu juga membawa risiko baru karena orangutan bisa masuk ke perkebunan atau wilayah yang berdekatan dengan aktivitas manusia.

Karena itu, penyelamatan satwa tidak bisa hanya mengandalkan petugas.

Masyarakat juga punya peran penting.

Jika menemukan satwa liar terdampak karhutla di sekitar permukiman, kebun, atau membutuhkan pertolongan, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada BKSDA Kalimantan Barat agar dapat ditangani dengan aman.

Sebab, saat hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan.

Ada rumah, sumber makanan, dan kehidupan satwa yang ikut terancam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *